Jenis jenis Perjanjian

Jenis jenis perjanjian adalah :

1. Perjanjian Timbal Balik dan Perjanjian Sepihak.

Perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang memberikan hak dan
kewajiban kepada kedua belah pihak, misalnya jual beli, sewa-menyewa,
pemborongan.
Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang memberikan kewajiban kepada
satu pihak dan hak kepada kepada pihak lainnya, misalnya perjanjian
hibah, hadiah.

2. Perjanjian Tanpa Pamrih atau dengan Cuma-Cuma (om niet) dan Perjanjian Dengan Beban.

Perjanjian tanpa pamrih jika suatu pihak memberikan suatu keuntungan
kepada pihak lain tanpa imbalan apa pun, misalnya perjanjian pinjam
pakai, perjanjian hibah.
Perjanjian dengan beban adalah perjanjian dalam mana terhadap
prestasi dari pihak yang satu selalu mendapat kontra prestasi dari pihak
lainnya, sedangkan antara kedua prestasi itu ada hubungannya menurut
hukum.

3. Perjanjian Nominaat dan Perjanjian Innominaat.

Perjanjian nominaat adalah perjanjian yang mempunyai nama sendiri.
Maksudnya ialah perjanjian tersebut diatur dan diberi nama oleh
pembentuk undang-undang, berdasarkan tipe yang paling banyak terjadi
sehari-hari. Perjanjian Nominaat terdapat dalam Bab V sampai dengan
Bab XVIII KUH Perdata.
Perjanjian innominaat yaitu perjanjian yang tidak diatur dalam KUH
Perdata, tetapi terdapat dalam masyarakat. Terciptanya Perjanjian
innominaat didasari karena pada hukum perjanjian, berlakunya asas
kebebasan mengadakan perjanjian.

4. Perjanjian Kebendaan dan Perjanjian Obligatoir.

Perjanjian kebendaan adalah perjanjian untuk memindahkan hak milik
dalam perjanjian jual beli. Perjanjian kebendaan ini sebagai pelaksanaan
perjanjian obligatoir. Perjanjian obligatoir adalah perjanjian yang menimbulkan perikatan,
artinya sejak terjadi perjanjian, timbullah hak dan kewajiban pihak-pihak.
Pembeli berhak menuntut penyerahan barang, penjual berhak atas
pembayaran harga.

5. Perjanjian Konsesual dan Perjanjian Riil.

Perjanjian konsensual adalah suatu perjanjian yang hanya memerlukan
persetujuan (consensus) dari kedua pihak.
Perjanjian riil adalah perjanjian disamping ada persetujuan kehendak juga
sekaligus masih memerlukan penyerahan suatu benda, misalnya jual beli
barang bergerak.

6. Perjanjian Formil.

Perjanjian formil adalah perjanjian yang harus dibuat secara tertulis, jika
tidak maka perjanjian ini menjadi batal, misalnya: Perjanjian perdamaian
(Pasal 1851 KUH Perdata).

7. Perjanjian Campuran (Contractus sui generis).

Dalam perjanjian ini terdapat unsur-unsur dari beberapa perjanjian
nominaat atau bernama yang terjalin menjadi satu sedemikian rupa,
sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan sebagai perjanjian yang berdiri
sendiri. Contohnya: perjanjian antara pemilik hotel dengan tamu. Didalam
perjanjian yang sedemikian, terdapat unsur perjanjian sewa-menyewa
(sewa kamar), perjanjian jual beli (jual beli makanan/minuman), atau
perjanjian melakukan jasa (penggunaan telepon, pemesanan tiket, dan
lain-lain).

8. Perjanjian Penanggungan (Bortocht).

Perjanjian Penanggungan adalah suatu persetujuan dimana pihak ketiga
demi kepentingan kreditur mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan
debitur, bila debitur tidak memenuhi perikatannya (Pasal 1820 KUH
Perdata).

9. Perjanjian Standar / Baku.

Perjanjian standar bentuknya tertulis berupa formulir yang isinya telah
distandarisasi (dibakukan) terlebih dulu secara sepihak, serta bersifat
massal tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi pihak yang
menyetujui perjanjian tersebut.

10. Perjanjian Garansi dan Derden Beding.

Perjanjian garansi adalah suatu perjanjian dimana seseorang berjanji
pada pihak lainnya, bahwa pihak ketiga akan berbuat sesuatu (Pasal 1316
KUH Perdata).
Derden Beding yaitu janji untuk orang ketiga merupakan pengecualian
dari asas yang menentukan bahwa suatu perjanjian hanya mengikat
pihak-pihak yang mengadakan perjanjian itu (Pasal 1317 KUH Perdata).

KUH Perdata